en

EAST INDONESIAN #1


admin - August 2, 2018 - 0 comments

EAST INDONESIAN #1

Presented by: Papuan Voices

3 August: Friday
14:00-15:30
Pemutaran film ini akan dihadiri oleh kru film

Ironic Survival

Urbanus Kiaf, Wenda Tokomonowir, Leo Moyuwend. 2012. 5 min
Mahuze, dalam bahasa Papua berarti sagu. Nama ini adalah salah satu marga dalam suku Malind, yang sepanjang generasi menjadi penjaga sagu sebagai makanan utama masyarakat Papua. Lahan sagu mereka terjarah sejak kehadiran Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Program yang sejatinya dibuat untuk meningkatkan ketahanan pangan itu justru merusak pangan lokal. Lahan sagu tergerus, kehidupan Alex Mahuze dan keluarganya terombang- ambing. Ia mencoba bertahan hidup, yang ironisnya justru menghancurkan alam, tempat nenek moyang mereka bernaung dan bergantung selama ribuan tahun. Alex kehilangan tanah dan budaya warisan leluhurnya.

Harapan Anak Cendrawasih

FX Making. 2012. 7 min
Di Arso—perbatasan Indonesia dan Papua New Guinea—setitik asa yang digantungkan anak-anak Cendrawasih ini berhadapan dengan sistem pendidikan yang carut marut. Guru jarang datang, anak-anak terbengkalai. Kadang guru datang siang, tetapi lantas menyuruh murid pulang. Untuk mengisi waktu, anak-anak bekerja di perusahaan kelapa sawit untuk mendapatkan upah. Namun, para murid tetap memiliki cita-cita tinggi yang menanti untuk diwujudkan.

Papua Calling

FX Making, Yuliana Langowuyo. 2012. 5 min
Papua beralih rupa seiring dengan semakin banyaknya pendatang, yang membawa beragam perubahan dalam kehidupan warga lokal. Di antaranya jumlah populasi penduduk beragama Muslim yang terus meningkat dan memberi warna dalam keberagaman masyarakat Papua. Menjadi minoritas di tanah Timur Indonesia, warga Muslim di Papua beranggapan bahwa apa yang menjadi permasalahan di Papua adalah isu bersama. Ustad Fadhal berharap agar tidak melihat permasalahan di Papua hanya milik warga Kristen. Isu yang dihadapi bukanlah persoalan agama melainkan soal kemanusiaan.

Surat Cinta Kepada Sang Prada

Wenda Tokomonowir. 2012. 7 min
Tahun 2008 menjadi momen penting bagi Maria Goretti (Eti). Ia bertemu tambatan hatinya, Samsul, seorang prajurit TNI yang bertugas di daerah tempat tinggalnya, di perbatasan RI dan Papua New Guinea. Malang tak bisa ditolak, ketika Eti tengah berbadan dua, Samsul harus kembali ke kampung halamannya. Tiga tahun berlalu, hingga sang putri kecil tumbuh besar, Samsul tak ada kabar.

Wamena

Bonny Lanny . 2012. 6 min
Dalam kebudayaan masyarakat Wamena, babi memiliki nilai yang sangat tinggi. Nama Wamena sendiri berasal dari Wam yang artinya babi, dan Ena artinya Jinak atau Babi Jinak. Hampir di setiap siklus kehidupan selalu disimbolkan dengan pemberian babi. Kekayaan sebuah keluarga juga ditentukan oleh seberapa banyak babi yang dimilikinya. Babi juga menjadi simbol perdamaian antarsuku di kawasan pegunungan tengah. Tidak heran ketika terjadi wabah penyakit yang membawa kematian pada babi menjadi kerugian besar bagi warga di Wamena.

Honai

Niko Asso. 2012. 6 min
Rumah tradisional Honai merupakan pusat kehidupan bagi masyarakat di kawasan Pegunungan Tengah. Di Honai inilah seluruh sistem kehidupan seperti beragam ritual, pertemuan klen, perdamaian, dilakukan. Sejalan dengan perkembangan zaman, warga Wamena juga menempati pola pemukiman baru yang disebut Rumah Seng atau Rumah Sehat. Meski generasi muda sudah banyak yang menempati rumah tersebut, namun mereka masih percaya bahwa honai tetap menjadi pusat adat yang tetap harus dilestarikan.

Mama Mariode

Agus Kalalu . 2012. 5 min
Mariode Malak dan Kefas Gisim adalah ‘tembok penjaga’ terakhir antara hutan dan perusahaan perkebunan sawit yang memperluas wilayahnya di tepi sungai Klasafet. Tetangga mereka telah menjual tanahnya kepada perusahaan. Mariode tidak ingin menjual tanahnya. Ia memasang papan penanda di seluruh tanahnya, untuk melindungi sisa hutan di sekitar tanah adatnya. Hutan adalah hidup mereka, katanya, dan ia ingin menyelamatkannya untuk generasi selanjutnya seperti yang telah dilakukan leluhur kepadanya.

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Ina Mayor. 2012. 7 min
Bapak Matias Mayor memiliki sebuah tempat penginapan di Yandebabo, sebuah pulau milik keluarganya di Raja Ampat, Papua Barat. Berbekal modal sedikit yang dimilikinya, ia membangun kamar-kamar dan hingga kini ada 4 barak dengan 9 kamar. Bapak Matias sempat ditawari investor asing untuk bekerjasama, tetapi ia tolak keras. Ia sadar bahwa bekerjasama dengan investor hanya akan menguntungkan mereka daripada pemilik tempat.

Related posts