en

Overview

PostFest merupakan ajang seni tahunan yang diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Digelar pertama kali pada 2017, ajang ini digagas untuk menjadi sebuah landasan kreatif bagi berbagai pemikiran yang muncul dari interaksi civitas academica dalam berbagai diskusi intensif yang berlangsung selama proses studi di program Pasca Sarjana IKJ yang banyak memberi tempat pada studi urban dan industri kreatif. Berbagai dialog yang terjadi, memunculkan gagasan-gagasan baru yang dengan bebas dikemukakan untuk mencoba mencari solusi berbagai persoalan-persoalan mutakhir yang dihadapi masyarakat urban yang hidup di kota besar seperti Jakarta.

Festival tahunan disepakati menjadi sebuah etalase untuk hasil pembelajaran para mahasiswa program pasca sarjana IKJ khususnya dari program studi penciptaan yang bisa menjadi tempat bagi mahasiswa dan alumni program penciptaan menggelar gagasan-gagasan yang bisa menjadi acuan untuk saling mengembangkan dan memamerkan karya-karya ciptaannya.

PostFest mencoba membuatkan ruang dan waktu di mana semua orang dapat bertemu dan berinteraksi untuk melatih kepekaan civitas academica program pasca sarjana IKJ terhadap kompleksitas kehidupan. Persoalan- persoalan urban seperti yang ditemui di Jakarta sebagai sebuah kota yang menjadi sebuah melting pot berbagai latar belakang manusia, baik kultur, religi, ekonomi dan sosial coba diperbincangkan dan dicari titik temunya.

Sebagai sebuah inisiatif yang masih berusia muda, PostFest sesungguhnya merupakan sebuah penjelajahan terhadap segala kemungkinan bentuk kolaborasi antar berbagai elemen kreatif. Ajang ini juga dihadirkan dengan sebuah misi untuk menjadi sarana di mana civitas academica Pasca Sarjana IKJ dapat membangun kerjasama dan jejaring seluas-luasnya dengan institusi pendidikan lain, komunitas-komunitas kreatif, juga seniman-seniman individual baik di tingkat nasional maupun internasional.

PostFest sebagai cerminan hasil lokakarya Program Studi Penciptaan Pascasarjana IKJ dengan demikian bisa disebut sebagai praktik sociopreneurship, wirausaha sosial, di bidang kesenian. Itu sebabnya PostFest Pascasarjana IKJ ini bukan saja meluaskan jaringan ke luar kampus Pascasarjana IKJ, melainkan lebih luas lagi, keluar dari dinding-dinding kampus pendidikan tinggi seni.

Dengan visi seperti itu, PostFest selalu berusaha menampilkan beragam ide dan ekspresi seni; baik dalam bentuk seni pertunjukan – teater, seni musik, tari, film-, seni rupa, atau gabungan dari semuanya. Tak hanya produk seni yang ingin diangkat dan ditampilkan dalam PostFest, melainkan –dan ini yang sesungguhnya lebih penting- juga proses kreativitas itu sendiri.

Seperti penyelenggaraan tahun pertama, di tahun kedua ini, konsep gotong royong masih menjadi konsep penyelenggaraan acara. Gotong royong yang dimaksud adalah bahwa para seniman yang terlibat ikut secara aktif mengatur dan menyediakan keperluan logistik pameran atau acara petunjukan.

Tahun ini, PostFest akan mengarahkan perhatian pada Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan potensinya melahirkan seniman-seniman besar. “Pendidikan menengah seni rupa tak bisa dinafikkan sebagai salah satu sumber utama pencetak seniman-seniman yang baik. Cukup banyak seniman yang saat ini mendapat pengakuan penting baik dari dunia seni rupa Indonesia maupun mancanegara yang merupakan lulusan SMSR. Ada yang kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah tinggi atau institut seni, tak sedikit pula yang tak melanjutkan sekolah dan langsung merintis karier sebagai seniman, terjun ke pasar seni dan mendapat apresiasi yang baik,” Sardono W. Kusumo, penasihat yang juga salah satu penggagas PostFest mengatakan. PostFest serta sistem pendidikan pasca sarjana di IKJ yang melahirkannya, menurut Sardono, diharapkan dapat menjadi sebuah model sistem pendidikan, penciptaan dan sarana membangun jejaring untuk meningkatkan kreativitas yang dapat diterapkan di bagian mana pun di pelosok Indonesia. Teknologi – yang disebut Sardono sebagai cybersphere – akan digunakan sebagai pendukung agar seluruh masyarakat Indonesia untuk mencipta sesuai dengan biosphere yang dimilikinya.

Memberi ruang untuk tumbuh dan berkembangnya sistem edukasi yang dapat menjangkau seluruh pelosok wilayah Nusantara, menjadi perspektif yang ingin dikembangkan melalui penyelenggaraan PostFest. Dengan berorientasi pada pengembangan kreativitas generasi muda dan pemanfaatan teknologi, pendidikan dapat terdesentralisasi hingga ke wilayah di pelosok terdepan Nusantara, tak lagi tersentralisasi di kota besar seperti Jakarta dan lainnya.